SOMNIPHOBIA

Disadur dari situs Psych2go, rasa takut terhadap tidur dikenal dengan istilah somniphobia (atau hypnophobia), dan pada umumnya berhubungan dengan kecemasan atau gangguan depresi. Fobia ini biasanya dipicu oleh pikiran sebagai mekanisme perlindungan dan ada kemungkinan mengusut ke trauma yang berkaitan dengan tidur.

Misalnya tidur melalui peristiwa traumatis seperti kematian anggota keluarga atau bahkan terbangun dalam tragedi kebakaran bisa jadi sumber utama pemicu kondisi tersebut. Pikiran bawah sadar melekatkan emosi pada situasi yang bersangkutan, maka dari itu tergantung pada kejadian yang dialami, respon masing-masing individu terhadap fobia tersebut tidaklah sama. Ada sejumlah orang yang mengalaminya secara terus-menerus, ada pun yang menanggapi dorongan tertentu.

 

Kisah J.

Di situs resmi Vice, J. (nama samaran) seorang penderita somniphobia, mengisahkan pengalaman pribadinya mengidap fobia ini. Dimulai dari pengalaman buruk demi merawat luka vermain (luka pada otak yang menyebabkan pusing dan hilangnya keseimbangan), hingga dianggap dokter mengidap masalah “mania” atau sesuatu yang “diciptakan”, yang akhirnya membuat J. menerima berbagai diagnosa yang saling bertentangan. Macam-macam diagnosa ini pada akhirnya membuat J. yakin bahwa sesuatu bisa menimpanya kapan saja.

“Saya menderita pusing permanen, vertigo, dan sakit kepala parah, selain masalah tidur. Secara bertahap, rasa takut saya meningkat. Saya mulai takut tidur dan berpikir bahwa saya menderita penyakit yang serius,” tuturnya di artikel wawancaranya dengan Vice.

Dalam kasus J. somniphobia ini bukan berarti dia tidak tidur sama sekali. J. biasanya tidur antara tiga hingga lima jam sebentarnya. Hal ini karena serangan panik yang dialaminya ketika memperisapkan diri untuk tidur. Tubuhnya memicu rasa panik dan tersedak untuk mencegahnya tertidur. “Anda merasa tidak berdaya (pada situasi itu). Alam bawah sadar mendominasi Anda,” katanya.

Karena fobia ini, J. mengaku tak memiliki kehidupan sosial sama sekali. Bahkan tak sedikit orang yang mengenal somniphobia ini dengan penyakit kegilaan. Hal ini tentu memperburuk situasi dengan isolasi diri, ketidakpercayaan, dan munculnya patologi masalah kesehatan mental lainnya. J. menyarankan untuk memberi dukungan pada penderita somniphobia, dan perihal fobia itu sendiri, J. berharap ada penelitian lebih supaya bisa menemukan solusinya.

 

Gejala

Jika dalam kasusnya J. mengalami serangan panik, belum tentu semua penderita somniphobia mengalami hal serupa. Namun, gejala-gejala yang biasanya timbul termasuk mual, sesak napas, detak jantung tidak teratur, berkeringat, merasa takut. Hal ini tergantung pada kondisi sang penderita.

 

Perawatan

Huffington Post  memberikan lima tips yang bisa dilakukan untuk membantu perawatan penderita somniphobia. Lima tips ini dikemukakan oleh Kenneth C. Anderson, M.D. seorang spesialis paru-paru dan obat tidur. Dokter Anderson Adalah dokter di Sleep Disorders Center di Baptist Hospital East di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat.

 

  1. Identifikasi gejala dasar. Hal ini meliput mengetahui apakah Anda bangun terengah-engah, membuat Anda takut untuk tidur lagi, atau apa penyebabnya.
  2. Pastikan antara insomnia atau somniphobia. Secara psikologis, penderita insomnia adalah mereka yang kesulitan tidur dan tidak takut untuk tidur. Maka dari itu penting untuk benar-benar memastikan antara keduanya.
  3. Cari evaluasi profesional. Karena somniphobia merupakan gejala dari sesuatu yang lain yang sedang terjadi, dr. Anderson merekomendasikan menemui dokter untuk evaluasi tidur agar mendapatkan perawatan, kemudian terbiasa tidur lagi.
  4. Ciptakan suasana kamar tidur yang kondusif. Penting untuk membuat kamar tidur Anda bebas dari distraksi yang mempersulit tidur. Stres kerjaan dan alat elektronik adalah dua faktor yang memicu kesulitan tidur. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memisahkan ruang kantor dari ruang tidur, dan tidak meletakkan televisi di ruang tidur. Selalu ingat bahwa ruang tidur adalah khusus untuk istirahat.
  5. Setel pola tidur dan menentukan rutinitas supaya kita sendiri bisa membiasakan tubuh untuk tidur di waktu yang tepat.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *